Hoam......... Aku bangun dari tidurku aku mengambil handuk dan lekas mandi. Setelah mandi aku memakai baju. Aku memakai blus hitam dengan rok panjang abu-abu juga kerudung putih bertali abu-abu dan... Selesai! Setelah itu aku turun ke lantai bawah. “Papa, Mama!” Sapaku seraya menuruni tangga. “iya sayang...” Jawab Mama dan Papa bersamaan. Lalu aku duduk di kursi makan dan melahap sandwich gandum dengan segelas coklat hangat. “Pa..., Ma... Fenny berangkat dulu ya...” “iya sayang...” “assalamualaikum” “waalaikumsalam”. Aku pun menaiki mobil sedan hitam mengilap milik ku. Oya namaku fenny putri kennya kalian bisa memanggilku fenny. Umurku 9 tahun tentunya aku sudah menginjak kelas 3 SD. Aku bersekolah di Al-Muslimah International Elementary School. Sekolah swasta khusus perempuan. Pakaiannya pun bebas asal pakaiannya menutup aurat dan sopan. Disana aku memiliki 4 sahabat yaitu Gita, Maira, Fane dan Aurel. Kami selalu sekelas dari TK A aku dan sahabat-sahabatku menamakan gank kami yaitu rainbow friendship. “Non sudah sampai” kata supirku “oh... Iya Pak makasih ya Pak...” “iya non... Sama-sama”. Aku membuka pintu mobil dan mulai berjalan menuju kelas. Setelah sampai di kelas aku meletakan tasku lalu aku berjalan ke aula tempat berkumpul aku dan sahabat-sahabatku. Sampai di aula aku sudah melihat mereka aku melambaikan tangan pada mereka. Kami pun mengobrol dengan gembira sampai bel istirahat berbunyi.
Keesokan harinya...
“Non sudah sampai...” “iya pak makasih ya pak...” “sama-sama non...”. Setelah itu aku menuju ke kelas dan seperti biasa aku meletakan tas dan menuju tempat kami berkumpul, aula. KRING!!!!!!!!!!!! Suara bel terdengar begitu nyaring di telinga ku. Kami pun menuju kelas dan duduk di kursi masing-masing. Saat pelajaran ada yang tak enak denganku yaitu muka Fane sangat..... pucat dalam pelajaran ada rasa tak enak dalam hatiku dan firasat buruk.
Saat istirahat...
Kami semua ke kantin dan memesan bakso. Ada lagi yang aneh dengan Fane. Fane hanya memakan 1 buah bakso padahal biasanya Fane yang habis duluan dan dia yang paling semangat. Sehabis memakan bakso kami semua bermain bola basket awal-awalnya fane ingin bermain basket tapi lama kelamaan dia mengeluh katanya dia hanya ingin melihat kami dari aula saja (lapangan persis di depan aula) dia pun duduk di aula sambil memasang wajah lesu dan pucatnya. Kami pun bermain basket sampai bel masuk berbunyi.
Keesokan harinya...
Hoam.......... aku bangun dari tidurku. Rrrrtttt.... rrrrtttt... hpku bergetar. Ternyata ada SMS dari Maira dan aku membacanya : Ininalillahi wa innalilahi rojiun... telah meninggalnya Fane Cantika Aulia tadi jam 3 pagi. Saya harapkan kalian semua datang di pemakan Almh. Fane Cantika Aulia. Akan di sholatkan di masjid Nurul Iman. Dan bagi siswi sekolah Al-Muslimah langsung ke masjid dan sekolah di liburkan. Sekian informasi dari saya Wassalamualaikum...
Dengan tak sengaja aku membanting hpku sendiri. Aku segera mandi dengan sangat cepat lalu memakai baju dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa. “Ma.. Pa... Fane sahabatku meninggal!” kataku dengan cepat. “Ininalillahi wa innalilahi rojiun...” kata Mama dan Papa bersamaan. “Pa... Ma... antarkan aku ke masjid Nurul Iman ya...” “iya sayang...” jawab Papa. Aku Papa dan Mama pun melaju kencang ke masjid Nurul Iman.
Di masjid Nurul Iman...
Aku segera turun dari mobil dan menuju sahabat-sahabatku. Tak lama terlihat mobil jenazah datang dan di masukan ke masjid.
“Apa sih penyebab nya ?, apa dia punya penyakit tertentu yang selama ini di sembunyikan sama kita ?!” tanyaku kepada Maira.
“Mereka semua juga menanyakan tentang itu tapi dari tadi aku tak menjawab. Fane memang punya penyakit, yaitu asma. Tetapi dia tak pernah bilang kepada kita. Asmanya adalah level ke-2 paling tinggi. Dia mengidap penyakit itu dari umurnya 7 tahun. Tetapi waktu kita melihat mukanya pucat ternyata dia sudah mengidap asma yang paling tinggi. Dan dia menulis surat kecil untuk kita yaitu berbunyi seperti ini : Sobat... maaf aku tak memberi tahu kalian tentang ini. Karna aku tahu pasti aku akan merepotkan kalian. Sobat... hidupku hanya sesaat lagi dan jangan tangisi kepergian aku ini sobat. Sobat, walau aku telah tiada kita tetap sahabat tetap sehati takan pernah berpisah.... Itulah surat terakhir Fane untuk kita semua...” kata Maira panjang lebar. Setelah mendengar itu mata kami semua berkaca-kaca kecuali Aurel dia sudah menangis sejadi-jadinya. Semua orang telah datang dan sholat jenazah pun di mulai.
Setelah sholat jenazah...
Aku dan sahabat-sahabatku nemaiki mobilku untuk menuju ke pemakaman di mana akan di makamkannya Fane. Setelah sampai di pemakaman, kami semua menuju tempat di lubangkannya tanah untuk Fane dan dia telah masuk ke lubang itu. Kami mendo’akan Fane.
Keesokan harinya...
Aku menaruh tasku di bangku dan seperti biasa, menuju aula. Di aula aku bercanda ria dengan sahabat-sahabatku walau Fane telah tiada. Kami bercanda tawa sampai bel berbunyi.
Saat istirahat...
Kami menuju kantin untuk mengganjal perut. Kami semua memesan siomay dengan selera masing-masing. Setelah memakan siomay di kantin kami semua bercerita tentang pengalaman dan imajinasi masing-masing. Cerita-cerita kami begitu seru. Semuanya mendengarkan dengan sesama. Hari begitu cerah, ceria dan menyenangkan walau 1 sahabat kami telah tiada. Dan kami nenjadi genap. Dia tak akan kembali, sampai hari berbangkit